12 Oktober 2011

Forgiving and forgetting..

Mungkin selama ini orang-orang yang mengenalku tidak pernah tahu kalo ada kisah seperti ini dibalik semua keceriaan yang kutunjukkan.. Tak ada yang menyangka kalau ternyata aku punya keluarga yang tidak seperti keluarga..
Ya benar.. aku berasal dari keluarga yang rusak, yang tidak berjalan sebagaimana fungsi sebuah keluarga..
Semua bermula dari pilihan mamaku untuk mengikuti keegoisan papaku, yang memaksanya menikah dengan ancaman bunuh diri.
Mamaku tahu bahwa pernikahan yang bermula dari paksaan bukanlah hal yang baik, tapi karena pikiran polosnya yang mengira bahwa menyebabkan orang meninggal adalah berdosa, maka diambilnyalah keputusan itu, keputusan yang akhirnya merusak keluarga ini.. Keputusan yang membuatku sebagai anak, tak mengetahui bagaimana rasanya sebuah keluarga yang utuh..
Terlihat seperti bahwa aku adalah anak hasil paksaan.. Pikirku dulu..
Ditambah lagi dengan keadaan ekonomi yang memaksa papaku untuk bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun, ia berangkat ke Jepang pada saat aku masih berumur 3 atau 4 tahun..
Keadaan umur yang sangat membutuhkan figur seorang papa..
Alhasil mamaku membesarkanku sendirian selama bertahun-tahun..
Aku tumbuh dengan mendengar tangisan mamaku di telepon karena cacian papaku, entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas benih-benih kebencian itu mulai muncul di hatiku. Dan setiap kali papa mau berbicara kepadaku, aku selalu menolaknya dan berdalih dengan berbagai macam alasan. Sebenarnya adalah aku benci untuk berbicara dengan papaku, tak ada perlunya..
Sekian lama benih kebencian itu berakar dan terus bertumbuh dalam hatiku, waktu itu aku belum mengenal Tuhan secara pribadi, meski aku Kristen sejak kecil, tapi yang ada hanyalah sebuah rutinitas pergi ke gereja dan sekolah minggu..

Akhirnya ia pulang, papaku pulang dari luar negeri..
Dengan perasaan tak menentu mama dan aku menyambutnya dengan setengah hati.. dan benar apa yang kami takutkan terbukti, di dalam rumah tak pernah ada damai sejahtera, justru pada saat papa pergi dari rumah saat-saat paling melegakan.
Suasana rumah tidak lagi menjadi seperti rumah, terasa seperti neraka..
Situasi bertambah parah ketika papa marah, papa turun tangan menyakiti kami berdua, ada saja yang dilakukannya, dari menampar, menonjok, memukul, sampai meludah..
Semuanya pernah dia lakukan, dan ketika amarahnya reda papa kembali menjadi papa yang biasa, yang tak pernah peduli pekerjaan mama di depot, yang hanya seharian menonton TV di rumah..
Sakit demi sakit dirasakan oleh kami berdua oleh sikapnya..
Sampai pada suatu saat papa menghilang selama beberapa bulan, entah pergi ke mana atau melakukan apa, tapi justru keadaan ini membuat suasana rumah kembali seperti rumah, rasa damai itu muncul kembali di rumah tanpanya.. Sesaat kami sangat menikmati keadaan itu, tapi dalam hati aku tahu bahwa masalah ini belum selesai..

Benar saja.. Pada saat mama dan aku pergi ke Malang untuk mengunjungi rumah kami yang baru selesai dibangun, ternyata rumah itu tidak kosong..
Yang membukakan kami pintu adalah seorang wanita yang berpakaian minim dan bertanya siapa kami. Dengan perasaan kaget kami bertanya balik kepada wanita itu, dan memberitahu padanya bahwa ini adalah rumah kami, seketika wanita itupun masuk ke rumah setelah membuka pintu untuk kami..
Dalam rumah kami mendapati papaku yang sedang berpakaian minim pula sedang santai menonton TV..

Jgerrr.. *petir menyambar

Tak usah diperjelas pun melihat keadaan seperti itu hanya ada satu kesimpulan, yaitu sebuah perselingkuhan.. Tapi papaku tanpa ekspresi dan merasa bersalah, alih-alih menjelaskan, ia malah bertanya balik kepada mama.. "Ya wes, trus kamu mau apa?"
Aduuh.. serasa dunia ini hancur dalam sekejap, belum cukup sikapnya seperti itu, ditambah lagi dengan keadaan ini..
Sambil menahan sakit dan air mata, kami pun pulang kembali ke Surabaya..
Tak tahu apa yang harus diperbuat, kami pun melanjutkan hidup tanpa papa..
Bekerja seperti biasa, bersekolah seperti biasa..
Kejadian ini terjadi pada saat aku masih SMP, saat2 yang paling mengerikan pula di sekolah..
[Yang akan kuceritakan di postingan berikutnya..]
Jadi intinya, keluarga hancur, sekolah hancur.. Dimanapun tak ada tempat berpijak bagiku yang masih bersekolah..
Sempat berpikir untuk bunuh diri, hilang dari semua permasalahan ini, tapi tak pernah terlaksana..
Aku sangat bersyukur pada saat aku pun masih belum mengenal Tuhan, Ia terus melindungi dan menjagaku, tanpa aku tahu..

Hingga akhirnya aku lulus SMP dan masuk SMA, saat2 Tuhan mulai memanggil namaku..
Melalui anak-anak muda yang mencari jiwa dari rumah ke rumah aku dipanggil,
Tapi tak semudah itu mereka mendapatkanku, perjuangan mereka untuk follow-up sangat mengesankan, tak henti-hentinya mengajakku untuk mengikuti komsel remaja pada saat itu..
Akhirnya karena merasa terganggu aku pun mengikuti komsel dengan pikiran bahwa aku akan menolaknya dengan mengatakan bahwa aku tidak cocok ada dalam komsel tersebut..
Tapi rencana tinggal rencana, aku menemukan keluarga dalam tempat itu..
[Terjaring sampe sekarang deh..wakakaka..]
Tempat aku belajar tentang Tuhan, Bapa sejati yang tak pernah mengecewakan..
Terus menerus aku dibantu untuk belajar mengampuni, yang jelas2 tak mudah.. sama sekali..
Sampai pada suatu saat aku mengikuti sebuah camp yang luar biasa, camp yang memutarbalikkan kehidupanku.. camp yang membuatku mulai bisa mengampuni..
Saat itu pembimbing camp mengajak peserta berdoa untuk penyembuhan luka batin yang mungkin pernah terjadi dalam kehidupan kami, dimulai dari anak yang mungkin pernah mau digugurkan saat masih dalam kandungan, maupun yang mengalami kepahitan..
Saat itu aku merasa kikuk dan aneh, karena disekelilingku sudah banyak anak-anak yang menangis meraung-raung, terisak-isak, bahkan tertawa-tawa sendiri..
Aneh banget pikirku.. aku masih dalam keadaan mengeraskan hati, dan beranggapan tak ada yang terjadi..
Sampai saat seorang pembimbing yang memiliki karunia menafsirkan bahasa Roh berkata bahwa di tempat ini ada seorang anak yang mengalami kepahitan terhadap papanya..

*jgerr, petir menyambar lagi

Pembimbing itu menjelaskan dengan detil apa yang terjadi, sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk mengelak lagi dan dengan tersungkur menangis bersama dengan orang-orang lainnya..
Aku sudah tak peduli, mau ada orang menganggap aneh atau apa, terserah, hanya satu yang ada dalam pikiranku saat itu.. Tuhan mengorek dan membersihkan lukaku yang telah lama berdarah dan bernanah.. Sakit..jelas..!!
Sempat bergumul, tak mau mengampuni, tak mau didoakan, tapi aku tak mampu menahan perasaan itu.. perasaan ketika dipeluk oleh seorang papa.. [airmata semakin mengocor derasss...]
Perasaan yang selama ini belum pernah kualami..
Sangat hangat, sangat nyaman, sangat aman.. jaminan 100%!!
Tanpa dipaksa lagi kakiku berjalan mencari figur papa yang mirip dengan papaku..
[ceritanya saat itu lagi ada sesi pembasuhan kaki..hehe..]
Yang mau mengampuni dibasuh, yang mau diampuni membasuh.. begitulah..
Saat tiba giliranku di orang yang kupilih, padanya aku berteriak menangis dan sempat memukulinya, bercerita tentang perilaku papaku terhadap aku dan mama..
Satu kalimat yang kuingat sampai saat ini, yaitu "Maafkan papa ya nak, maafkan sudah menyakiti kalian berdua, terus berdoa untuk papa ya, karena saat ini papa tidak sadar, papa punya hati dikendalikan oleh roh jahat"
Tersentak oleh perkataan itu, kesadaranku kembali, saat itu juga aku memaafkan papaku, karena fakta baru yang kuterima, yaitu tidak seharusnya aku membenci papa, yang harus benar2 kubenci adalah iblis yang sedang menguasai hati papaku..!!
Oh Tuhan..
Kesadaran baru ini membuatku yang dulunya masih setengah hati bilang mengampuni, menjadi belajar mengenai pengampunan yang sejati..
Hingga saat ini pun, aku masih dalam proses belajar mengampuni dan melupakan..
Karena sampai saat ini pula, aku tidak mengetahui keberadaan papaku, ia telah menghilang selama beberapa tahun terakhir ini..
Cuma satu yang kuharapkan kalau-kalau kita tidak pernah bertamu lagi, yaitu supaya papa bahagia, diamanapun ia berada, dan kalau-kalau papa telah memiliki keluarga yang baru, aku berharap semoga ia tidak melakukan hal yang sama yang ia lakukan terhadap mama dan aku..
Aku percaya Tuhan terus menerus melindungi dan menjaga papa, mama, dan aku..

Ia Bapa yang setia..
Terima kasih Tuhan yang telah memprosesku hingga jadi aku yang sekarang ini..
Masih banyak proses yang harus kulalui, tapi satu hal yang kupercaya, rencanaNya adalah rencana yang terindah..


Tak ada yang kebetulan,
Greater things are yet to come,
in my life and in your life..Give Thanks.. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar